12 Januari, 2013

Sandy Episode 2


12 tahun sebelumnya, Sandy saat itu tengah mengajari Andra dan Sammy membuat cinderamata untuk turis di  daerah wisata tersebut di siang hari di pondok samping rumah Sandy. Mario melihat mereka dan membantu Sandy, Sammy, dan Andra yang agak kesulitan. Mario mengajari Sandy kasih sayang dan emosi seperti orangtua pada umumnya, selain itu, Mario juga mengajari Sandy bermain harmonika, bela diri, dan berenang. Mario sendiri juga tidak punya orangtua sejak berusia 5 tahun, karena dititipkan oleh Ibu Eni, Ibu kepala desa sebelum Pak Raden dan Ibu Ratih, pada saat orang tuanya sedang mencari ikan, kapal mereka tersapu ombak dan ditemukan tewas terdampar. Mario dan keluarganya diberi bayi perempuan yang hampir dibunuh oleh dukun suruhan Pak Bandon, akhirnya, Mario memutuskan untuk memberi nama bayi titipan itu adalah
“Sandy Cylista. Artinya permata biru dibalik halusnya pasir putih samudra”,
 saat itu, Mario masih berusia 11 tahun dan mengasuhnya. Namun ia sudah dibunuh saat menyelamatkan Sandy yang masih berusia 9 tahun, sejak saat itu, Sandy sendiri berubah 180o derajat yang awalnya ceria dan lincah, menjadi perempuan sinis, tomboy dan pendiam, ia merasa 16 tahun berlalu lebih cepat dari biasanya.
Sandy pun pulang dengan rasa kelelahan, ia teringat dengan semua perkataan Ibu Ratih, kata-kata yang masih ada di pikirannya masih ia simpan.
“Sandy, anggota clan* Cylista yang tersisa itu adalah kamu sendiri dan Rista.”
lalu ia menidurkan dirinya ia bermimpi didatangi keluarganya termasuk ayah dan ibu titipan, namun itu hanya sebentar saja.
Beberapa tahun sebelum Sandy dilahirkan, Pak Bandon adalah kepala desa yang berhati baik. Namun sifatnya berubah setelah seorang dukun meramalkan nasibnya yang mengatakan bahwa seorang wanita yang berasal dari sebuah klan akan membuka rahasia kejahatan yang disembunyikannya. Untuk itu, setiap bayi perempuan yang dilahirkan dari klan seperti Cylista dan Maulana Abdullah** akan dibunuh oleh pengawal Pak Bandon dengan kebengisan mereka. Dan akan terjadi peperangan antar desa. Beruntung bagi Clan Maulana Abdullah, karena hampir semua saudara Fadly mempunyai kakak-kakaknya yang laki-laki dan perempuan. Namun Andy mengetahuinya kalau Pak Bandon akan membunuh bayi yang dirawatnya dan kakaknya. Ia bergegas menuju markas rahasia Cylista untuk mencari ide agar kedua bayi perempuan yang mereka rawat selamat dari kebengisan Pak Bandon.
“aku juga menyayangi Sandy, tetapi Pak Bandon mempunyai banyak pasukan. Bagaimana idemu sayang?”
 sejenak Freddy terdiam, lalu ia mendapat ide agar ia dapat menyelamatkan Rista yang berusia 3 bulan dan Sandy yang berusia 2 tahun. Awalnya semua tidak setuju dengan idenya, namun semua menjadi mengerti mengapa ia merencanakan ide itu. Andy akhirnya membuang Rista ke Pulau Temajo sedangkan Sandy dirawat oleh keluarga Mario yang waktu itu berusia 7 tahun. Itulah akhir cerita Ibu Ratih yang ia ketahui dari Nenek Rima.







*suku atau marga sebuah keluarga
**marga tempat  Fadly dilahirkan

Sandy Season 3 Episode 7


“tidak ada apa-apa. Ini sudah malam sebaiknya kau pulang saja.” Kata Reni.
“iya.” Kata Fadly seraya bangun dari tempat tidur perawatan.
Fadlypun meninggalkan ruangan dalam keadaan sempoyongan. Ibu Ratih dan tetua curiga dengan keadaan Fadly. Lalu mereka memanggil Sandy dan Rista untuk menguntit Fadly dari jauh. Disaat yang bersamaan Rully menelepon Ibu Ratih.
“ada apa Rully, ini sudah jam 22.30.”
“sebaiknya Ibu Ratih harus menarik ucapan itu, karena aku menemukan sebuah petunjuk yang ada kaitannya dengan Reno cs itu.”
“APA? Sudah ada? Ibu juga akan kesana dengan Sandy cs.” Kata Ibu Ratih mengakhiri pembicarannya lewat Handphone.
Sementara itu, Sandy dan Rista masih mengawasi Fadly dari belakang semak-semak. Mereka melihat Fadly menuju dermaga dalam keadaan seperti itu. Tetapi, Sandy juga merasakan seperti yang dirasakan Fadly. Rista berusaha menghentikan langkah Sandy, tetapi sia-sia saja. Lalu Rista menghubungi Ibu Ratih.
“Ada apa Rista?”
“Fadly dan kak Sandy ke dermaga dalam keadaan terhipnotis oleh sesuatu.”
“apa? Yang benar saja?”
“benar dan...” tiba-tiba suara Rista menghilang dari handphonenya.
“Apa Rista? Rista? Rista?.... wah, sepertinya sesuatu sedang terjadi pada mereka bertiga. Untuk sementara, kamu baru bisa bilang itu besok saja. Soalnya Sandy, Rista, dan Fadly sepertinya terkena Genjutsu oleh seseorang.” Kata Ibu Ratih menghentikan pembicaraannya pada Rully.
“tapi, bolehkah aku menjalankan misi seperti ini?”
“kau sedang menjalankannya, tetaplah mencari petunjuk yang lain yang ada hubungannya dengan Reno.”
“baik.”
“yang lainnya, cepat susul mereka di dermaga.” Perintah Ibu Ratih.
“BAIK!!!”
Disaat yang bersaman, Mistin melihat sesuatu yang membuat Sandy, Rista dan Fadly terjebak oleh seseorang. Iapun segera membuka matanya.
“Mistin, kamu kenapa?”
“aku merasakan sesuatu yang terjadi pada mereka.”
Semua terbelalak mendengar apa yang dikatakan Mistin. Namun, beberapa saat kemudian merekapun mengerti.
“kak Sandy dan Fadly terkena jurus ilusi yang diperuntukkan untuk Jinchuuriki, sedangkan Rista terbujur kaku di....”
Belum selesai Mistin menjelaskannya, Rista sudah berada di samping Andra dan Sammy. Sontak mereka kaget dan mengira Rista menjadi hantu.
“kalian jangan kaget, aku masih hidup. Dan Mistin, kau benar. Mereka terjebak ilusi seseorang yang juga Jinchuuriki. Namun bukan Si Jubah Hitam, tetapi....”
“SIAPA???!!!” seru semua serentak.
“Reno.”                              
“HAHHH!!! Tidak mungkin!!??” bantah Aji.
“Rista benar, dia adalah Jinchuuriki laba-laba bermata 5.” Tegas Mistin.
Semua terdiam disaat Rully sudah menemukan semua petunjuk itu. Namun beberapa saat, Deidara mendatangi mereka dan menemukan jalan tempat mereka terkena Jurus ilusi. Merekapun mengikuti arah yang ditunjuk Deidara, tetapi Deidara hanya sampai di dermaga.
Sementara itu, Si Jubah Hitam mengikuti arah Sandy dan Fadly dari bawah laut. Sandy dan Fadly tidak mengetahui kalau mereka terkena jurus ilusi. Si Jubah Hitampun membunyikan seruling anti Jurus ilusinya. Alhasil, merekapun sadar dan melihat sesuatu berada di kaki mereka. Fadlypun dengan cepat mengalirkan Lightning Storm-nya. Kesempatan itu membuat Si Jubah Hitam memakai jurus Water Prison level 3 untuk membuat orang yang menjebak mereka tidak dapat memakai jurus andalannya. Namun, ternyata Reno dapat melepaskan diri dengan jurus Earth Blade-nya.
Sementara itu, Mistin dan yang lainnya masih mencari keberadaan Sandy dan Fadly di tengah laut.
“bagaimana, Mistin? Sudah terdeteksi?”
“Aji, jangan mengganggu konsentrasinya!” cegat Nadine cerewet.
“Sebentar.... Cakra*-nya...” jelas Mistin terbata-bata.
Sandy, Fadly, dan Si Jubah Hitam mulai kehabisan cakra, tetapi mereka tidak kehabisan akal. Mereka melemparkan bom asap pada Reno. Namun, Reno justru mengeluarkan jurus Sand Prison** untuk menahan mereka.
Di tempat lain, Erry Maulana Abdullah yang menjaga Clan Locker tiba-tiba kaget melihat Chakra Patrol Box milik Fadly tiba-tiba mengeluarkan Ular yang jumlahnya sangat banyak. Penasehat Tetua yang sedang lewat disitu juga curiga melihat kejadian itu. Namun setelah diselidiki, ternyata Locker milik Fadly memberitahukan kalau itu menandakan bahwa sesuatu telah membuat Ular putih yang berada di tubuh Fadly mengamuk.
“Erry, panggil... tetua. Sesuatu terjadi pada Fadly.”
“Saya tahu, ada yang telah membuat Jinchuuriki Fadly marah. Mungkin ini perbuatan Laba-laba bermata 5.”
“tidak mungkin tetua, saya dengar monster itu telah disegel oleh clan Cylista.”
“kau memang benar, tetapi ada yang mengeluarkannya kembali dengan entah cara apa yang membuat segelnya terlepas kembali.” Tegas tetua.
Di clan Ratclaw, Randy yang sedang latihan tiba-tiba melihat pin kesayangan John bersinar terang dari arah gudang. Randy curiga dan melaporkan hal itu pada ketua clan Ratclaw.
Di rumah Rully, Ranita sedang membantu Rully mencari petunjuk lain dari Gulungan merah tersebut. Namun tiba-tiba Umizuka dan Samane Kuchiyose Sandy keluar sendiri didepan mereka.
“KURANG AJAR!!!! JADI KAU YANG MEMANGGILKU DENGAN MEMAKAI DARAH KAKAKKU HAAHHH!!!???” kata Samane marah besar.
“TOLONG TARIK KEMBALI UCAPANMU ITU, BODOH. SIAPA YANG MEMANGGILMU? KALIAN BERDUA ITU KELUAR SENDIRI!!!!” balas Ranita kesal.
“STOP! Maaf kalau kalian merasa marah karena hal seperti ini. Tetapi adikku memang tidak memanggil kalian. Kalian terpanggil karena Jinchuuriki milik majikan kalian mengamuk tanpa alasan yang jelas.” lerai Ibu Ratih.
“apa? Musang ekor sembilan mengamuk???”
“Ular Putih ekor 8 dan Landak bertanduk 7 juga.” Tambah tetua dan ketua dari clan Ratclaw yang tiba-tiba datang.
“kalian juga tahu kalau Fadly dan John juga mengalami hal yang sama?”
“iya, Ratih. Itu terjadi begitu saja.” Kata tetua.
Benar saja, Jinchuuriki milik Sandy, Fadly dan Si Jubah Hitam yang diduga John langsung aktif saat Sandy cs tiba disana.
*sejenis tenaga dalam seperti aliran Chi (dalam istilah China)
**jurus dari perpaduan antara angin dan tanah yang dapat menjadi pasir

A Journey of TMZI : 11. Dream Weaver (Last Episode)


Namun tanpa diduga Keluargaku menyambut hangat kedatanganku…
 “DILA!! Kamu hebat!! Bisa menangkap penjahat-penjahat itu!!” seru seluruh keluargaku.
“Eh, nggak juga tuh…” kataku.
“Cowok yang berkacamata itu siapa?” tanya kakakku.
“Dia…”
Di Rumah Axel…
“Mama bangga punya anak kayak kamu. Tapi ngomong-ngomong siapa anak perempuan yang ada di samping kamu itu?” tanya Ibu Axel.
“Iya, siapa?” tanya sepupunya Axel.
“Aku penasaran.” Tambah kakaknya Axel.
Axel hanya terdiam mendengar pertanyaan itu.
Di rumah Panji…
“PANJI!!” seru seseorang memeluknya yang ternyata adalah Ayahnya.
“Saya dapat informasi kalau kamu diculik. Ternyata kamu nggak apa-apa.” muncul Om-nya.
“Iya, Panji emang diculik. Tapi berkat teman-teman baru Panji. Panji tau kalo ada orang yang lebih kuat dari para penculik itu.” Jelas Panji.
“apa itu?” Tanya Omnya.
“Keberanian dan kekompakan yang erat.” Jawab Panji.
“Iya, Panji. Bukan hanya bermodal keberanian, kekompakan juga harus ada dalam bersosialisasi.” Jelas Omnya.
Lalu saat aku melihat bulan sabit dari jendela kamar…
“Kapan-kapan kita akan bertemu lagi…” kataku berharap.
“Jangan lupakan kita semua, terutama kamu…Dila…” Gumam Axel berharap sambil menutup laptopnya.
“Apa yang kita rasakan selama kita bertemu…” kata Yasinta menulis diary di laptopnya.
“Akan menjadi kenangan selamanya” gumam Khalil berharap sebelum ia tidur.
“Begitu juga kakak, Dila, Axel, Khalil, Amir. Dan semuanya…” gumam Panji sambil menulis Diarynya.
Dan sejak saat itu, persahabatan kami yang berawal dari jejaring sosial berbuah manis dan bahkan berguna bagi orang lain dan alam sekitar mereka. Para perusak alam akan merasakan akibat ulah mereka sendiri. Dan sejak saat itu akupun mengerti arti cinta lokasi yang sering aku dengar dari televisi.


-Selesai-

A Journey Of TMZI : 10. Panji's Quotes and The Last Journey


Dan keesokan harinya…
“Terima kasih karena teman-teman sudah mengikuti Jambore ini. tapi sebelum acara ditutup. Saya ingin menyampaikan beberapa hal yang tak kalah pentingnya setelah Jambore ini ditutup. Pertama, untuk klub Johnious. Sebaiknya kalian harus lebih banyak belajar dari Klub lain yang lebih disiplin. Saya harap jangan meniru kecerobohan yang ketua kalian alami. Untuk Chef Class Club, sejujurnya masakan kalian enak sekali. Tapi aku sarankan kalian agak sering mengambil bahan baku dari alam. Dan Club TMZI….”
Semua terdiam, lalu Panji melanjutkan pidatonya.
“Meski kalian seperti klub yang sifatnya aneh, pecinta Anime, Penggemar Megaman, sering bikin heboh klub lain, atau apalah, tapi persahabatan dan kekompakan kalian layak dicontoh klub yang lain. Terutama Axel dan Dila yang mungkin... ya sampai detik ini mereka bisa lebih akur dari sebelumnya. Bahkan kalian telah melakukan hal yang mungkin tidak bisa dipercaya dengan logika. Aku harap banyak orang yang seperti kalian.” Katanya melanjutkan.
“Heh?” kagetku dan Axel yang tiba-tiba terbangun.
“Dia ngomongin apa?” tanya Aulil mengorek telinganya.
“makanya, jangan ngorek telinga mulu…” gerutu Dwi.
“Saya Panji, Ketua Klub Sahabat Panji sekaligus ketua Jambore menyatakan, bahwa Jambore secara resmi ditutup…” kata Panji menutup pidatonya.
“YEEEEEEYY!!” seru semua peserta Jambore.
“Dan untuk TMZI club. Saya mendapat laporan dari kepolisian, bahwa mereka berterima kasih karena kalian sudah membantu dalam menangkap para penjahat yang sempat kabur dari penjara. Jadi hadiahnya, kalian dapat tambahan liburan selama 3 hari di Kepulauan seribu.” Katanya menambahkan.
Kami senang karena waktu liburan kami menjadi 10 hari dari rencana awal. Lalu kami menikmati liburan di kepulauan seribu tanpa bayaran apapun. Kamipun menikmati keindahan alam bawah laut kepulauan seribu dengan berkeliling pulau. Tak ada habisnya Muhamad Virgiawan terus memotret kami yang sedang melakukan apa-apa. Untungnya semua itu digagalkan oleh Amir dan Haekal yang kepeleset di kapal hingga membuat aku dan yang lainnya terjatuh ke laut.
3 hari berlalu, kami harus segera berkemas kembali ke Jakarta. Long Boat yang pernah mengantar kami ke Jambore ternyata sudah menunggu kami.
Di Long Boat, Axel dan Khalil tertidur di pangkuanku saat aku sedang asyik mendengarkan musik.
“Kemarin-kemarin, aku yang kalian omelin. Sekarang kalian yang malah ketiduran. Aku nggak mau celanaku sampe basah karena air liur kalian, apalagi kamu Axel… Dasar…” gumamku kesal. Lalu aku mulai mengantuk dan tertidur bersama mereka.
Lalu saat kami di Jakarta, kamipun membeli oleh-oleh khas Jakarta untuk keluarga yang di rumah. Lalu kami menginap di rumah Amir yang cukup besar.
“Eh, Mir, Shidqi (Tribe King), Fan, Haekal. Semua orang itu kawan-kawan Kalian?”
“Iya, Tante. Kita teman-teman FB-nya.” Kataku.
“maaf ya merepotkan.” Tambah Satia dan Peni.
“ah nggak apa-apa, yuk makan dulu.” Kata Amir mempersilahkan.
Beberapa hari setelah itu, kamipun berkumpul kembali di Gelora Bung Karno.
“Sudah…sudah…kita bisa saling curhat lagi lewat Fb…aku akan terus ingat wajahmu, Axel.” Kataku dalam keadaan masih dipeluk Axel.
“Aku juga, Dil.” Kata Axel terus memelukku.
“Ayo berfoto dulu!!” seru Amir bersiap dengan kamera digitalnya.
“AYOOOO!!” seru kami semua.
Setelah kami berfoto bersama…
“Jangan lupain aku ya….” Kata Khalil memegang tanganku.
“Iya, Khalil…” kataku melepaskannya.
“Mungkin sudah cukup untuk kali ini…” kata Axel.
“Sampai jumpa semua…” seru Muhamad Virgiawan, Yasuhiro, dan Amir.
“Hati-hati ya!!” kataku, Peni, Septian, Axel dan Khalil.
Kalian juga!!” seru Yasinta, Dwi dan Haekal.
“JANGAN LUPAKAN TMZI!!” seru Aulil memakai Megaphone-nya lagi.
“BANG AULIL!!!” Omel Amir.
Baru beberapa langkah berjalan, aku melihat Axel memeluk pohon seperti saat aku memeluk pipa hydrant didepannya.
“Aku akan terus mengingatmu, Dila.” Katanya sambil membelai pohon itu.
Lalu akupun merampas Mega-Phone Bang Aulil dan melakukannya seperti saat aku ditegur Axel.
“Axlym! This is not Sketch Show(Ini bukan Sketsa)!!” seruku menyebut nama OC-nya.
Kamipun berpisah dan pulang ke rumah masing-masing.


A Journey Of TMZI : 9. Shadow of Heart


Hingga hari itu tiba…
“Dan sekarang adalah penampilan modern dance dari TMZI Club. Kami harap semua sudah siap.” Kata Yasuhiro dan Muhamad Virgiawan membawakan acara.
Satu-persatu, semua personil Dance naik keatas pentas, termasuk Axel dan aku. Lalu Radifan menyetel musik pengiring* dance yang sudah diputuskan semalam sebelumnya. Aksi Dance mereka mengundang kagum penontonnya. Perpaduan gerakan Axel dan aku membuat mereka ingin mengabadikan gerakan dance tersebut dengan kamera handphone mereka. Setelah Aksi mereka selesai….
“Wah, Dance kalian hebat.” Kata Panji memuji kami.
“Ah, nggak juga.” Kataku.
“Padahal cuma dancer amatiran…” tambah Axel.
“Iya. Tapi yang jelas kita sudah melewati Jambore ini dengan penuh kejutan.” Jelasku.
“Kamu benar…” kata Radifan membenarkan.
“Dan mulai dari kita datang di Jambore ini hingga selesai, kita selalu melihat Axel dan Dila selalu berdekatan dan berpegangan tangan seperti orang pacaran.” Sindir Amir.
“Ahaaay, ada apa dengan kalian…?” tanya Septian, Peni, dan Yasinta menyindir kami.
Khalil, Amir, dan Dwi merengut mendengar sindiran itu. Lalu kami saling berpandangan dan melepaskan tangan kami….
“HEEEH!!” seru kami berdua.
“Axel Aeniv Lymphos!” ejekku.
“Dila Muniarty!!” katanya balik mengejekku. Lalu dia lari dan akupun menyusulnya.
“Eh, kembali!!” kataku jengkel.
“Dila…Dila….Axel….Axel…” kata Satia memegang tangan Septian.
“Satia…lepasin ah…” omel Septian.
Sore harinya saat Khalil dan Axel sedang berenang…
“Axel, apa kamu masih memikirkan Dila sampai sekarang?” tanya Khalil.
Axel hanya diam.
“Axel? Kenapa kau tidak jawab pertanyaanku?” tanya Khalil heran.
Axel terus saja mengabaikan apa yang dikatakan dan ditanyakan Khalil padanya. Lalu Khalil meninggalkan Axel sendirian.
“Maaf, Khalil. Aku tak bisa mengatakan itu padamu. Tapi…” gumam Axel termenung lalu tiba-tiba tenggelam. Septian yang tadinya ingin memancing melihat Axel sudah tenggelam. Lalu ia berteriak minta tolong sambil membawa tubuh Axel yang berat. Mendengar teriakan Septian, semua peserta Jambore berlari menuju pantai. Akupun segera  menolongnya dengan memberikan napas buatan untuknya. Lalu Axel sadarkan diri.
“Bilang sesuatu.” Kataku meniru Panji.
Namun ia hanya tersenyum.
“Makasih.” Katanya melemah dan terbatuk-batuk karena meminum air terlalu banyak. Lalu kembali tak sadarkan diri karena kelelahan menyelamatkan diri didalam air.
Malam hari sebelum Jambore ditutup keesokan harinya…
“Dil, apa kamu memang punya perasaan dengan Axel.” Tanya Yasinta padaku.
“Sebenarnya iya, saat aku melihat gambarnya yang sebetulnya bagus banget. Tapi kalo diajak ngomong, dia kayak nggak mau tau omonganku. Tapi apa dia tau perasaanku?” ujarku.
“Mungkin itu perasaanmu saja, Dil.” Tambah Satia.
Sementara itu di tepi pantai saat angin sedang kencang…
“Dia mungkin suka dengan kamu. Tapi nggak dia utarakan sekarang.” Kata Amir.
“Amir bener tuh, Axel. Kenapa kamu nggak bilang langsung aja?” tambah Radifan dan Pandu.
“Aku dan dia lain keyakinan. Jadi aku tetap mengabaikan perasaannya…” bantah Axel.
Khalil hanya terdiam.
“Aku tahu cinta tak mengenal siapapun atau apalah. Tapi ini berkaitan dengan keluargaku, kalau keluargaku tahu apa yang aku lakukan padanya. What Should I Do?
Amir dan Radifan ikut terdiam.
“Sudahlah, aku mau tidur…” katanya pergi meninggalkan Amir, Radifan, Haekal, Pandu dan Khalil di Pantai. Dan tidak menyadari ia melewatiku yang akan menuju ke pantai.
Axel melihat Camp lelaki tidak ada siapa-siapa. Iapun mengunci pintu dan langsung berbaring di tempat tidur dengan wajah yang mulai menangis.
“Tuhan, ada apa denganku?” katanya dalam hati sambil menghapus semua airmata yang terus bercucuran.
Lalu di luar, Yasuhiro, Muhamad Virgiawan, dan Panji curiga dengan pintu Camp lelaki yang dikunci Axel karena mendengar Axel menangis sendiri.
“Wah, dikunci…” kata Muhamad Virgiawan.
“Axel! Kamu nggak apa-apa?” tanya Yasuhiro.
“Bro!! Buka Pintunya!! Aku tau kamu lagi sedih!” Seru Bram tiba-tiba datang.
“Haekal! Jangan ganggu aku!!” seru Axel dari dalam.
“Lha? Aku bukan Haekal…” balas Bram.
“TERSERAH!! YANG PENTING JANGAN GANGGU AKU!!!” bentak Axel dari dalam.
“Wah, mau tak mau kita harus mendobraknya!.” kata Bram.
“Semua siap-siap…kalau aku udah kasih tanda. Kalian dobrak pintunya!” kata Panji. Bram, Yasuhiro dan Muhamad Virgiawan melangkah mundur untuk mendobrak pintu.
“1…2…3… DOBRAK!!” kata Panji mengomando.
Saat Bram, Muhamad Virgiawan, dan Yasuhiro akan mendobrak pintu Camp. Axel yang bermaksud ke kamarku membuka pintu dan melihat wajah Panji pucat.
“Kak Panji? Ada apa?” tanya Axel keheranan kemudian melihat ke depan. Dan kaget saat melihat Bram, Muhamad Virgiawan, dan Yasuhiro yang tadinya ingin mendobrak pintu Kamar Camp malah akan mendorongnya. Axel tak sempat lari hingga…
GUBRAKKKK!!!
Panji melihat tubuh Axel ditahan seperti pemain Rugby yang ditahan pemain lawannya. Aku yang mendengar gemuruh itu langsung menuju Camp lelaki bersama Amir dan Khalil.
“Ada apa ini? kalian kenapa?” kata Axel masih tertahan.
“Kak Panji! Kenapa dia bisa jadi kayak begitu?” tanyaku.
“Anu…” kata Panji terbata-bata.
Setelah Panji menjelaskan semuanya.
“Jadi, kalian mengira aku mau bunuh diri? Nggak, aku tadi merenungkan diri. Dan ingin ke kamar Camp cewek, mau ngomong sesuatu dengan Dila.” Jelas Axel.
“Eh? Aku juga mau ke kamarmu. Dan sebetulnya. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan dengan orang tuaku kalau aku pulang nanti.” Kataku.
Semua terdiam…
“Semua peserta Jambore dan yang lainnya… tolong rahasiakan ini dari orang luar.” Kata Panji.
“Baik!” seru Semua ketua Klub masing-masing.











*Rokko Chan Soundtrack – Jet Man Stage (8-bit Arranged)

A Journey Of TMZI : 8. After Incident


Keesokan Harinya Di Camp, para polisi berterima kasih pada kami karena telah menangkap para penjahat yang selama ini sedang mereka cari-cari. Atas jasa kami, mereka mengembalikan kalung yang tadi Selly rampas pada kami. Kami senang dan juga bangga karena bisa membantu polisi menangkap para penjahat busuk itu. Dan siang hari setelah itu…
“Axel… lagi ngapain?” kataku sambil membuka pintu. Namun ternyata,
“Eh…eh…eh… Pergi kamu!! ASEEEM!!” katanya kaget lalu menutupi tubuhnya menggunakan handuk sambil mengusirku keluar kamar.
“Aku kira kamu udah pake baju. Dan lagi menggambar di laptop…” teriakku lari melewati Amir dan Septian yang sedang mengepel lantai.
“Lain kali ketok pintu dulu kalo mau masuk ke kamar!!” omel Axel.
“Maaf!! Axel!!” kataku.
“HEI!! Ini lantai baru dipel!!” omel Septian kesal.
“Maaf!! Yang lagi ngepel!!” kataku pada Septian.
Tiba-tiba…
GUBRAKKKK!!!
“Kak Dila!! Kalo lari liat-liat dong!!” kata Khalil tambah mengomel karena isi botol susu cokelat yang ingin dia minum tumpah ke tanaman yang berada di camp.
“gara-gara Dila Muniarty…. Semuanya malah jadi ruwet gini.” Gerutu Axel keluar kamar dengan handuk yang menyelimuti bagian bawah pinggangnya.
“ini juga gara-gara kamu sih, Axel! Pintu kamar cowok nggak dikunci kalo lagi ganti baju.” Omel Amir.
 “Sorry Mir, aku sebetulnya mau mandi, cariin sampo kok nggak ada. Dan Dila… soal gambar nanti aja kita bahas…” balas Axel kembali ke kamar.
Setelah Axel berpakaian…
“Ada apa kamu mencariku, Dila?” tanya Axel sambil membawa laptopnya.
“Axel.” Panggil Panji pada Axel.
“Eh iya…ada apa?” kata Axel duduk di bangku di depan kamar.
“Gimana gambarku. Apa sudah selesai?” tanya Panji.
“Baru mau ditebalkan garisnya. Karena banyak pesanan dari teman-temanku juga…” kata Axel.
“Boleh lihat?” tanya Panji penasaran.
“Boleh. Ini dia….” Jawab Axel menunjukkan gambar tersebut.
Setelah Panji melihat Gambar dirinya versi Anime. Ia lalu bertanya.
“Ini yang disebut Versi Append?” tanya Panji.
“Iya, apa menurut kak Panji… ini masih nggak menarik?” tanya Axel pesimis.
“Justru ini paling menarik lho. Nanti kalo udah selesai, Diupload ya…” katanya pergi. Lalu Axel heran karena melihatku menari nggak jelas.
“Dil!” sahut Axel.
“Eh? Ada apa?” kataku sambil melepaskan headset.
“Kamu ngapain pake nari-nari segala?” tanya Axel heran.
“besok, kita mau tampil di pentas hari terakhir Jambore. Apa kamu nggak mau ikut?” tanyaku mengomel.
“Ya mau ikut, tapi aku nggak tau gerakannya kayak gimana.” Bingung Axel.
“Denger sendiri musiknya. Kalo udah ketemu, cari aku. Biar kita diskusikan dengan kawan-kawan yang lainnya. Aku mau makan dulu…” kataku sambil menyodorkan ponselku yang masih memutar musik yang akan dijadikan BGM saat tampil di pentas.
3 jam kemudian, Axel menyusulku saat aku, Amir, Radifan, dan member TMZI lainnya sedang berdiskusi.
“Dil!!” serunya mendekati kami.
“Bagaimana?” tanyaku.
Ia tidak langsung menjawabnya, tapi ia menunjukkan sesuatu di Laptopnya.
Melihat rekaman gerakan Axel di laptop tersebut. Semua anggota TMZI club mendiskusikan hal tersebut. Lalu mereka memutuskan untuk memakai sebagian gerakan tersebut.










A Journey Of TMZI : 7. Escape from Thieves! (Let's Showdown!!)


Dan setelah semua setuju dengan ide dan cara mereka masing-masing, merekapun bergegas menuju tempat yang dimaksud pada jam 06.00 saat semua panitia Jambore yang tidak tahu menahu hal tersebut baru bangun tidur. Setibanya di tempat tersebut, aku, Axel, dan Khalil segera menyelam dan mencari celah dari rumah terapung tersebut. Sementara itu di depan rumah terapung…
“Akhirnya kalian datang!!” kata pemuda gendut yang menjaga tempat tersebut.
“Lepaskan Panji!” seru Ewon.
“Tidak akan kalau kau tidak mau bergabung bersama kami.” Tambah Ello, teman pemuda gendut tersebut.
“Dia saudaraku. Kalau kalian bunuh dia akan terjadi hal yang buruk pada kalian semua.” Seru Gadis.
“Apa maumu? Hah?” kata Ello akan menampar Gadis, tetapi tangannya terkena ledakan petasan yang dilempar Faiz dan Alif.
“AAAGGH!! Tangan kiriku! Bocah-bocah sialan! Aku kejar kalian semua!” Sahut Ello kesakitan. 
Ello mengejar Alif dan Faiz, tetapi gagal karena ia tersandung tali yang dipasang erat-erat oleh Peni dan Fisha. Pemuda gendut itu marah dan ikut mengejar Peni dan Fisha. Lalu Radifan dan Haekal melempar Petasan pada Dodon. Ello pun mengejar Radifan dan Haekal. Diikuti Yasinta dan Arla yang menembakkan peluru ketapel mereka. Karena kelelahan, mereka lupa dengan jebakan yang berada dibawahnya dan akhirnya terjatuh dalam jebakan yang dipasang mereka sendiri.
Saat yang lainnya saling kejar mengejar, aku dan Axel menemukan celah dimana kami bisa menerobos rumah terapung didalamnya.
“Dil, gergajinya!!” perintah Axel.
Aku dan Axelpun menggergaji rumah terapung tersebut dan menemukan Panji diikat kuat dengan lakban.
“Kalian? Kenapa bisa…” kaget Panji tetapi aku segera menutup mulutnya.
“Sssst!! Nanti kedengeran mereka!!” bisik Khalil.
Lalu akupun memotong tali yang mengikat Panji.
“Cepat lari!!” perintahku.
Namun sialnya, ternyata kedok penyelamatan kami diketahui oleh pemimpin mereka!
“HAAA!! Mau Lari kemana kalian??? Dodon!! Ello!!” katanya memanggil pengawalnya namun yang datang adalah Yasuhiro.
“Terlambat!!” katanya menunjukkan Yasuhiro dan yang lainnya sudah mengikat Dodon dan Ello yang sudah babak belur karena petasan.
“Dila! Axel! Khalil! Panji!! CEPAT LARI!!” perintah Yasuhiro.
“Tidak akan bisa!! Karena semua keramba disini dipenuhi hiu! Kalau meloncat. Kalian semua juga akan mati! Rasakan lemparan sampah busuk ini pemuda berkacamata!!” kata Selly melempar sampah busuk namun Axel menangkap dan membuangnya.
“Semua hiu sudah kami lepaskan dan kami giring ke lautan lepas.” Kata Yasuhiro lagi sambil menunjuk Aulil yang memancing hiu-hiu tersebut ke lautan lepas bersama para peserta Jambore dari Sahabat Panji.
“Kurang Ajar!! Siapa diantara kalian yang melepaskan hiu-hiuku?” Tanya Selly dengan amarahnya yang mulai meledak.
“Aku!” seru Muhamad Virgiawan dari speed boat.
“Ayo lari!!” perintah Panji.
Lalu, aku, Axel, Khalil, dan Panji lari menghindari Selly yang mulai marah dengan Speed Boat. Yasuhiro menyusul kami dengan Long Boat yang mengantar kami ke pulau.
“Orang itu masih mengejar! Kak Panji!!” seruku.
“Dia pakai Jetski yang dicuri dari Camp.” Tambah Axel.
“Bagaimana kau bisa tahu, Axel?” tanya Panji dan Muhamad Virgiawan.
“Kemarin aku curiga dengan jumlah Jetskinya yang hilang satu. Pasti itulah jetski yang dicuri itu… Dila! Khalil!! Menunduk!!” katanya ikut menunduk untuk menghindari serangan yang dilancarkan Selly padaku. Akupun melihat isinya yang ternyata sebuah bahan kimia berbahaya.
“Ternyata mereka juga merusak lautan!” kataku.
“Mereka bener-bener nggak ada perasaan cinta pada alam lautan! Itu artinya mereka sudah mendzalimi diri mereka sendiri!!” tambah Khalil kesal.
“Mereka ingin mengambil keuntungan semata dengan cara seperti itu, Dila, Khalil. Mereka tidak berpikir bahaya untuk lautan ini.” jelas Axel menambahkan.
“Kau benar, Axel, Khalil. Mereka membuka dan melakukan usaha tetapi tidak berpikir akibatnya terhadap alam.” Tambah Panji.
Sementara itu di rumah terapung tempat kami melepaskan Panji…
“Terima kasih Dik, atas bantuannya menangkap para penjahat ini. dan sebagian dari pasukan kami akan menyusul orang yang menjadi DPO kami.” Kata Polisi wanita yang menjaga kepulauan ini.
“Ya, sama-sama.” Kata Faiz dengan bungkus petasan di tangannya.
“Eh, Faiz. Petasannya jangan ditunjukkin!” Omel Amir.
“Tapi lain kali jangan pakai petasan. Kecuali dalam hal seperti ini.” Omel Gadis dan Ewon memegang kedua orang yang sudah menyerah karena babak belur terkena petasan tersebut.
Kembali pada kami yang dikejar Selly…
“Bahan bakar mulai habis, dia masih mengejar kita.” Kata Muhamad Virgiawan.
“Aku lupa meminta petasan dari Faiz.” Tambahku.
“Landak laut dan isi ketapel juga habis.” keluh Khalil.
“Akh, aku lupa dengan tongkat penahan pintu di Camp.” Keluh Axel campur kesal.
“Kalau sudah begini, kita harus meloncat dari speedboat ini. begitu aku sudah memberi tanda, cepat kalian loncat.”  Kata Panji.
Dan saat Selly mulai mendekati kami…
“SEKARANG!!” seru Panji sambil meloncat diikuti Muhamad Virgiawan yang memeluk Khalil dan aku yang dipeluk Axel. Kamipun segera berenang dan memanjat rumah terapung di dekat kami sementara Selly yang kehilangan keseimbangan di jetskinya menabrak sebuah karang yang kemudian meledak. Ledakan itupun terdengar oleh Yasuhiro dan yang lainnya yang juga mengejar Selly.
“Cepat naik!!” perintah Panji sambil menaiki Rumah terapung yang juga diyakini adalah gudang penyimpanan bahan peledak. Aku, Axel, dan Khalil segera naik. Namun ternyata orang itu menyusul kami. Setelah kami menaikinya, kami harus segera mencari tempat sembunyi. Semua kosong, dan kami berhenti di ujung dari bagian halaman rumah terapung tersebut karena kami sudah terdesak.
“Sekarang kalian tidak bisa lari. Kalian mau apa sekarang hah? Lari? Tidak bisa… karena disini kami sudah pasang jebakan yang juga di…” lalu melihat di bawah dan ternyata Hiu-hiu miliknya juga Aulil pancing.
“Orang itu…” katanya mulai beringas.
“Mbak, saya juga mau usaha…” sindir Aulil sambil menggiring hiu-hiu tersebut.
“Dasar Bajak Laut!!” Kata Selly marah.
“Sekarang Axel!!” seruku.
Lalu Axel yang berada di belakang Selly memukulnya hingga terjatuh.
“Meski kau perempuan. Tapi hatimu tidak bisa aku maafkan!!” kata Axel melipat tangannya yang terdengar KREK!! KREKK!!.
Namun, ia memutar tubuhnya untuk menjatuhkan Axel saat Ewon dan Gadis menyusul kami. Axel tak sadarkan diri, akupun segera mendekatinya, namun Selly nyaris memukulku karena tangannya terkena lemparan ketapel oleh Amir. Lalu Axel tersadar kembali dan memelukku di ujung sudut rumah tersebut.
“Anak sialan!!” seru Selly pada Amir.
“Firdaus!! Merconnya!!” seru Amir dan Pandu.
“Rasekan lah ni! Mercon roket!!” kata Firdaus menyalakan petasan yang seharusnya diarahkan ke langit. Alhasil Selly mengalami luka bakar karena petasan, tetapi ia tidak menyerah dan menyanderaku dan Axel.
“Sekarang kalian mau apa hah? Percuma kalian lari… dan Ewon… bergabung atau kedua anak ini akan aku jatuhkan.”
“COBA AJA!!” seru beberapa orang yang rasanya aku dan Axel kenal suaranya.
“Siapa itu?” tanya Selly beringas dan menarik kalung yang menjadi kebanggaan kami, TMZI club.
Anehnya, saat ia menarik kalung tersebut, tiba-tiba ia seperti tersengat listrik. Dan saat ia melepaskan kami. Ia sesaat tak sadarkan diri. Setelah aku melihat di belakang kalung ini, ternyata ada tombol yang akan mengeluarkan aliran listrik jika ditarik kuat-kuat.
Lalu datang sekelompok orang yang sepertinya adalah para polisi laut.
“Jangan bergerak!!” kamipun segera menuruti perintah para polisi tersebut. Namun…
“Bukan kalian. Tapi yang didekat 2 anak itu!!” perintahnya lebih jelas.
Aku, Khalil, Panji, dan Axel segera ke tempat Amir berdiri saat Selly mendengar seruan para polisi tersebut. Axel langsung bersiaga dengan tongkat penahan pintu di Camp yang dibawa Aulil.
“Tidak! Saya ingin semua kalung yang ada pada kalian yang berada di depanku” perintahnya tidak mau mengikuti Para polisi dan mematahkan tongkat yang dipegang Axel. Axel segera mundur mengetahui tongkatnya sudah patah.
“Berikan saja, Yasuhiro…” kata Panji dan Ewon.
“Baiklah…” katanya melepaskan gelang yang ada di tangannya. Begitu juga kalung yang terjuntai di leher kami harus dilepaskan dan diserahkan padanya.
“Emas asli…” lalu ia menodongkan pistol pada kami.
“Bersiaplah mati!!!” kata Selly seperti orang gila.
Kami hanya pasrah saat ia akan menembak kami. Termasuk Axel yang terus memelukku dengan erat. Namun tanpa kami sadari, pistol yang ia pegang terlepas karena terkena lemparan landak laut yang baru ditangkap oleh Sahabat Panji dan... kakak pembina magang tempat aku kerja dulu dan sahabatnya Axel…Bram…
“Menyerahlah!! Ikuti para polisi itu!!” seru Nur, kakak pembinaku sambil memegang ketapel yang berpeluru petasan yang akan diledakkan Bram.
“Bram!” seru Axel.
“Kak Nur!!” seruku juga.
Tanpa kami sadari, Selly yang masih tidak mau menyerah dengan keadaannya akan menusuk kami dengan pisau di tangannya. Namun dengan cepat, racun yang terdapat dalam duri landak laut bereaksi dan membuat ia terjatuh dan tidak bisa bangun lagi. Dengan cepat polisi segera mengamankan Selly yang sudah terkena racun landak laut tersebut. Semua member Sahabat Panji menyusul kami dan menghampiri Panji yang memeluk Peni.
“Bram, kenapa kamu bisa tau hal yang kayak begini?” tanya Axel sambil berdiri.
“Dan Kak Nur juga apa nggak ngejaga MCR??” tanyaku juga.
“sehari setelah kamu ke Jakarta, aku juga pergi karena penasaran dan juga Ibu dan semua saudaramu masih mengkhawatirkanmu.” Jelas Bram.
“Aku Off 4 hari. Dan kebetulan dapat berita ini dari Bang Doni dan teman kakak di Jakarta.” Jawabnya membelaiku.
“Kamu berani sendirian kesini?” tanya Khalil pada seorang anak yang sepertinya adiknya sendiri.
“Paman yang ngasih tau. Dan sekarang paman lagi nunggu di Camp.” Katanya khawatir.
 “Kak Panjiiiii!!” seru Rere, Dha, Fisha, Ima, Hadi, dan Ismi.
“Kakak baik-baik aja. Kalian udah banyak membantu TMZI club dalam hal ini. makasih ya…” kata Panji pada mereka. Lalu Ismi mendekati aku dan Axel.
“Kak Dila, Kak Axel. Makasih ya…” katanya berterima kasih pada kami.
“Tidak apa-apa…Ismi…dan…. Axel…” kataku dengan perasaan yang aneh pada Axel.
“Ada apa?” tanya Axel.
Aku mulai terdiam.
“Bisa pinjam jaketnya tidak? Aku kedinginan…” kataku menggigil kedinginan.
“Ngomong dong!!” gerutu Axel sambil menyodorkan jaket yang tadi ia titipkan pada Amir.